Selasa, 26 Agustus 2014

En Nau Aif Gat Di Enzer(Anklir)

En Nau Aif Gat Di Enzer(Anklir)

Gw kali ini mau cerita tentang presentasi agama yang pernah gw lakuin di kampus, waktu itu judul presentasinya tentang da’I dan mengajak kepada kebaikan dan Islam.
Seperti biasa gw dan teman-teman menjelaskan dahulu definisi da’i dan embel-embel yang bersangkutan dengan da’I termasuk isim jama’ nya yaitu du’aah dan juga ayat yang berhubungan dengan mengajak kepada kebaikan, yaitu ayat yang menjelaskan akan tiga cara yang dapat ditempuh dalam berda’wah yaitu hikmah, mau’idzah hasanah dan mujaadalah almuhsinah, samapi di sesi pertanyaan ada seorang teman yang bertanya,

“bagaimana kalau penda’wah itu adalah seorang yang selalu melakukan ma’siat?, apakah sah da’wah yang ia lakukan itu” tanyanya.
Saya jawab “sah-sah saja asalkan da’wah nya itu mengajak kepada kebaikan”
“lantas bagaimana sahnya sementara ia saja berbuat perbuatan ma’siat?” tanyanya lagi.
Saya jawab lagi “kalau dalam konteksnya sah-sah saja berda’wah itu, karena pada definisinya da’wah itu mengajak kepada kebaikan(jalan Allah), memang sih kalau dipikir-pikir bagaimana orang bisa percaya pada orang yang kesehariannya saja tidak baik tiba-tiba mengajak pada kebaikan?”
“trus ga sah dong?” ia menimpali.

Lalu dari situ saya jadi bingung, karena sebenarnya juga saya kurang faham apabila masalahnya seperti itu. Akhirnya setelah beberapa jam berpikir , gw dapet pencerahan kira-kira seperti ini.
Sekarang kita berpikir menganalogikan kepada ibadah sholat, bagaimana sahnya seorang yang sholat sementara di kesehariannya itu ia masih melakukan perbuatan buruk, apakah sah sholatnya? Bagaimana seorang yang solat lima waktu tapi juga melakukan perbuatan tercela di kesehariannya? Sholatnya sesuai rukun dan syarat akan tetapi setelah sholat ia kembali melakukan ma’shiat?

Wallahu A’lamu BiShowaab. J

Tidak ada komentar:

Flag Counter

Posting Komentar