En Nau Aif Gat Di Enzer(Anklir)
Gw
kali ini mau cerita tentang presentasi agama yang pernah gw lakuin di kampus,
waktu itu judul presentasinya tentang da’I dan mengajak kepada kebaikan dan
Islam.
Seperti
biasa gw dan teman-teman menjelaskan dahulu definisi da’i dan embel-embel yang
bersangkutan dengan da’I termasuk isim jama’ nya yaitu du’aah dan juga ayat
yang berhubungan dengan mengajak kepada kebaikan, yaitu ayat yang menjelaskan
akan tiga cara yang dapat ditempuh dalam berda’wah yaitu hikmah, mau’idzah
hasanah dan mujaadalah almuhsinah, samapi di sesi pertanyaan ada seorang
teman yang bertanya,
“bagaimana
kalau penda’wah itu adalah seorang yang selalu melakukan ma’siat?, apakah sah
da’wah yang ia lakukan itu” tanyanya.
Saya
jawab “sah-sah saja asalkan da’wah nya itu mengajak kepada kebaikan”
“lantas
bagaimana sahnya sementara ia saja berbuat perbuatan ma’siat?” tanyanya lagi.
Saya
jawab lagi “kalau dalam konteksnya sah-sah saja berda’wah itu, karena pada
definisinya da’wah itu mengajak kepada kebaikan(jalan Allah), memang sih kalau
dipikir-pikir bagaimana orang bisa percaya pada orang yang kesehariannya saja
tidak baik tiba-tiba mengajak pada kebaikan?”
“trus
ga sah dong?” ia menimpali.
Lalu
dari situ saya jadi bingung, karena sebenarnya juga saya kurang faham apabila masalahnya
seperti itu. Akhirnya setelah beberapa jam berpikir , gw dapet pencerahan
kira-kira seperti ini.
Sekarang
kita berpikir menganalogikan kepada ibadah sholat, bagaimana sahnya seorang
yang sholat sementara di kesehariannya itu ia masih melakukan perbuatan buruk,
apakah sah sholatnya? Bagaimana seorang yang solat lima waktu tapi juga
melakukan perbuatan tercela di kesehariannya? Sholatnya sesuai rukun dan syarat
akan tetapi setelah sholat ia kembali melakukan ma’shiat?
Wallahu
A’lamu BiShowaab. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar