#bantenexpo2018 #hajatageng #konteskaryauntukbanten
Pada
pertengahan abad ke-15 di sebuah daerah yang cukup padat lalu-lintas niaganya
di ujung barat pulau Jawa, dididirkan sebuah kesultanan yang terkenal dengan
jiwa jawaranya, kesultanan itu terkenal
dengan kesultanan Banten, di tengah invasi dan monopoli perdagangan Eropa
kesultanan ini membangun peradaban. Layaknya pemerintahan yang umum, perhatian
pada bidang-bidang vital seperti ekonomi dan pembangunan sudah berjalan. Sekitar 5 abad kemudian, bangsa Indonesia
secara harfiah resmi merdeka dari penjajahan, menatap arah baru peradaban
dengan asa kemakmuran dan kesejahteraan. Perasaan lepas dari belenggu sebagai
bangsa terjajah melahirkan jiwa-jiwa pejuang pada awal kemerdekaan.
Setengah
abad kemudian menjelang era milenium yang juga dikenal dengan abad ke-21 generasi-generasi
ketiga dari pelaku sejarah kemerdekaan lahir, kini banten yang sudah bersatu
dalam negara kesatuan republik Indonesia bersama 33 Provinsi lainnya mulai
memasuki era modern. Pada saat itu tingkat kebahagian anak-anak di banten
diperkirakan mencapai masa emasnya, wahana bermain alami anak banyak dan mudah
sekali ditemukan, Entah berdasarkan musim apa, suatu waktu langit penuh dengan
kreasi layang-layang, dan suatu waktu sejumlah kelereng bergulir diatas tanah. Langkah-langkah di bawah terik mengarah pada
banyak tempat, dulu. Sawah, hutan, sungai. Kini langkah-langkah itu mulai
hilang, bukan langkahnya saja yang mulai hilang, tapi kesunyian telah diusir
oleh gerung yang bising. Perubahan zaman
telah merubah sawah menjadi rumah, hutan menjadi perusahaan, kawat menjadi
karat.
Sekarang,
lima abad sejak berdirinya kesultanan banten, kemanakah kebun bambu? Sesuatu yang
sering ditemui dulu, dimanakah kupu-kupu? Sesuatu yang sering mengitari lampu
setelah hujan bertamu. Dalam beberapa tahun ke depan, melihat sawah mungkin
akan jadi hal yang susah, bahkan Sampai saat ini masih belum terlihat rancangan
akhir wajah tanah jawara. Apakah beberapa tahun kedepan banten akan menjadi Provinsi
metropolitan dengan ribuan gedung pencakar langit dan tempat singgah jutaan
orang yang bekerja di ibukota atau sebagai provinsi agraris eksotis yang bisa
menjamin ketahanan pangan dan menjamin kebutuhan oksigen minimal untuk
provinsinya sendiri. Sebagai salah satu daerah di pulau terpadat,di Indonesia modernisasi
dan urbanisasi memang hal yang tak bisa
dihindarkan, apalagi secara geografis beberapa daerah di Provinsi Banten berada
di pinggiran Ibukota, sama seperti Provinsi Jawa Barat. Namun, jika dilihat
perkembangannya Provinsi Banten selama ini dirasa lebih lambat pembangunan
serta perkembangannya dibanding Jawa Barat.
Sebagai
penduduk asli Banten yang telah merasakan perkembangan Banten selama dua puluh
tahun, ada perasaan khawatir tentang masa depan Provinsi ini, tentang adakah
peran pemerintah dalam pengelolaan perencanaan pembangunan dengan
mempertimbangkan ketahanan pangan sebagai primary
needs saat melihat banyak persawahan dialih fungsikan menjadi perumahan dan
pabrik. Ditangan pemerintahan yang baru tentu diharapkan banyak perubahan
terutama untuk lebih aktif memperhatikan masa depan pangan, dengan mengatur
otoritas lebih ketat untuk pembangunan yang berdiri di atas lahan sawah dan
pertanian lainnya. Menurut data BPS tahun 2013, laju penyusutan lahan
pertanian di Banten dalam lima tahun terakhir cukup mengkhawatirkan. Besaran
penyusutan mencapai 0,14% per tahun, itu sekitar 273 hektare setiap tahun atau
5 hektare per minggu. Dari data tersebut apabila penyusutan terus terjadi, maka
independensi Banten pada hal pangan tidak akan tercapai. Jika perlu, banten
sebagai salah satu lumbung padi nasional memrogram setiap Desa diwajibkan
memiliki sejumlah sawah yang berperan sebagai badan usaha milik Desa, yang
dapat digunakan hasilnya untuk pembangunan, atau penyaluran bantuan untuk
keluarga yang kurang mampu.
Berkaca
pada Jawa Barat sebagai salah satu destinasi populer bagi warga pulau jawa
khususnya, Banten sebenarnya memiliki cukup banyak destinasi wisata alami yang
potensial, khususnya di daerah Banten Selatan, namun, pengelolaan pariwisata banten masih dalam
tingkat yang rendah, sehingga banyak tempat pariwisata dikelola secara swadaya
oleh masyarakat setempat, selain dapat memutar roda perekonomian, pengelolaan
wisata alam juga untuk upaya melestarikan ekosistem makhluk hidup. Keikutsertaan
pemerintah dalam perencanaan dan pengelolaan pariwisata di Banten sangat dibutuhkan, khusunya, kesan yang
melekat pada wajah pariwisata Banten saat ini adalah maraknya aksi pungutan
liar atau pembayaran yang kurang jelas tujuannya, sehingga mengecewakan setiap
pengunjungnya. Sebagai contoh potensi wisata, di kabupaten Tangerang, terdapat
daerah yang relatif hijau dan merupakan ekosistem bagi monyet di daerah Solear,
tidak jauh dari situ, terdapat bendungan kecil peninggalan Belanda yang cukup
eksotis, sepanjang jalan menuju Solear dari arah Bojong Loa terhampar sawah
hijau, namun kembali, sebagian sawah mulai dialih fungsikan menjadi kompleks
perumahan, apabila pemerintah ikut serta membangun fasilitas pariwisata, lokasi
tersebut sangat potensial dijadikan wisata agraria dan kehutanan seperti taman
hutan kota yang sudah berdiri di Tangerang Selatan. Berpindah ke banten
selatan, sebuah daerah yang cukup terpencil dari keramaian kota bernamakan
Lebak, menyimpan seribu potensi wisata alam, dengan alam yang masih alami dan
indah, sangat miris jika nantinya daerah ini ikut terseret arus modrenisasi, apresiasi yang besar diberikan pada
pemerintahan Lebak yang telah merevitalisasi jalan Cipanas-Citorek sehingga
akses ke destinasi-destinasi wisata di daerah Lebak dapat dilalui dengan mudah.
Dan agar terus memperhatikan dan ikut serta mengelola pariwisata daerah agar
dapat mengejar ketertinggalan dari Jawa Barat. Jika di Jawa Barat ada Geopark Ciletuh Banten pun bisa
membangun Geopark Lebak.
Dalam
beberapa tahun terakhir, perkembangan pembangunan Provinsi Banten cukup pesat,
namun, pemerintah harus memiliki visi pembangunan yang jelas, diimbangi dengan
pertimbangan aspek pangan dan kesehatan lingkungan, “akan menjadi seperti apa
wajah tanah jawara pada akhirnya?”, adalah sebuah pertanyaan sederhana namun
masih sulit dijawab. Akankah masa depan tata ruang kota yang ada di provinsi
banten sejelas Meikarta? Akankah seindah Tokyo atau Amsterdam? Dan dapatkah potensi alam di Provinsi ini dikelola
optimal seperti Jawa Barat? generasi kemerdekaan yang kedua dan seterusnya
harus dapat merasakan ruh semangat pejuang terdahulu, dengan semangat tersebut
di masa mendatang para pemegang tongkat estafet pemerintahan menjadi bagian
jawaban tersebut, menjadikan Provinsi Banten indah dan lestari alamnya,
sejahtera warganya, makmur Provinsinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar