Rabu, 14 November 2018

WAJAH AKHIR TANAH JAWARA?

#bantenexpo2018 #hajatageng #konteskaryauntukbanten

Pada pertengahan abad ke-15 di sebuah daerah yang cukup padat lalu-lintas niaganya di ujung barat pulau Jawa, dididirkan sebuah kesultanan yang terkenal dengan jiwa jawaranya,  kesultanan itu terkenal dengan kesultanan Banten, di tengah invasi dan monopoli perdagangan Eropa kesultanan ini membangun peradaban. Layaknya pemerintahan yang umum, perhatian pada bidang-bidang vital seperti ekonomi dan pembangunan sudah berjalan.  Sekitar 5 abad kemudian, bangsa Indonesia secara harfiah resmi merdeka dari penjajahan, menatap arah baru peradaban dengan asa kemakmuran dan kesejahteraan. Perasaan lepas dari belenggu sebagai bangsa terjajah melahirkan jiwa-jiwa pejuang pada awal kemerdekaan.
Setengah abad kemudian menjelang era milenium yang juga dikenal dengan abad ke-21 generasi-generasi ketiga dari pelaku sejarah kemerdekaan lahir, kini banten yang sudah bersatu dalam negara kesatuan republik Indonesia bersama 33 Provinsi lainnya mulai memasuki era modern. Pada saat itu tingkat kebahagian anak-anak di banten diperkirakan mencapai masa emasnya, wahana bermain alami anak banyak dan mudah sekali ditemukan, Entah berdasarkan musim apa, suatu waktu langit penuh dengan kreasi layang-layang, dan suatu waktu sejumlah kelereng bergulir diatas tanah.  Langkah-langkah di bawah terik mengarah pada banyak tempat, dulu. Sawah, hutan, sungai. Kini langkah-langkah itu mulai hilang, bukan langkahnya saja yang mulai hilang, tapi kesunyian telah diusir oleh gerung yang bising.  Perubahan zaman telah merubah sawah menjadi rumah, hutan menjadi perusahaan, kawat menjadi karat.
Sekarang, lima abad sejak berdirinya kesultanan banten, kemanakah kebun bambu? Sesuatu yang sering ditemui dulu, dimanakah kupu-kupu? Sesuatu yang sering mengitari lampu setelah hujan bertamu. Dalam beberapa tahun ke depan, melihat sawah mungkin akan jadi hal yang susah, bahkan Sampai saat ini masih belum terlihat rancangan akhir wajah tanah jawara. Apakah beberapa tahun kedepan banten akan menjadi Provinsi metropolitan dengan ribuan gedung pencakar langit dan tempat singgah jutaan orang yang bekerja di ibukota atau sebagai provinsi agraris eksotis yang bisa menjamin ketahanan pangan dan menjamin kebutuhan oksigen minimal untuk provinsinya sendiri. Sebagai salah satu daerah di pulau terpadat,di Indonesia modernisasi dan urbanisasi memang  hal yang tak bisa dihindarkan, apalagi secara geografis beberapa daerah di Provinsi Banten berada di pinggiran Ibukota, sama seperti Provinsi Jawa Barat. Namun, jika dilihat perkembangannya Provinsi Banten selama ini dirasa lebih lambat pembangunan serta perkembangannya dibanding Jawa Barat.
Sebagai penduduk asli Banten yang telah merasakan perkembangan Banten selama dua puluh tahun, ada perasaan khawatir tentang masa depan Provinsi ini, tentang adakah peran pemerintah dalam pengelolaan perencanaan pembangunan dengan mempertimbangkan ketahanan pangan sebagai primary needs saat melihat banyak persawahan dialih fungsikan menjadi perumahan dan pabrik. Ditangan pemerintahan yang baru tentu diharapkan banyak perubahan terutama untuk lebih aktif memperhatikan masa depan pangan, dengan mengatur otoritas lebih ketat untuk pembangunan yang berdiri di atas lahan sawah dan pertanian lainnya. Menurut data BPS tahun 2013,  laju penyusutan lahan pertanian di Banten dalam lima tahun terakhir cukup mengkhawatirkan. Besaran penyusutan mencapai 0,14% per tahun, itu sekitar 273 hektare setiap tahun atau 5 hektare per minggu. Dari data tersebut apabila penyusutan terus terjadi, maka independensi Banten pada hal pangan tidak akan tercapai. Jika perlu, banten sebagai salah satu lumbung padi nasional memrogram setiap Desa diwajibkan memiliki sejumlah sawah yang berperan sebagai badan usaha milik Desa, yang dapat digunakan hasilnya untuk pembangunan, atau penyaluran bantuan untuk keluarga yang kurang mampu.
Berkaca pada Jawa Barat sebagai salah satu destinasi populer bagi warga pulau jawa khususnya, Banten sebenarnya memiliki cukup banyak destinasi wisata alami yang potensial, khususnya di daerah Banten Selatan, namun,  pengelolaan pariwisata banten masih dalam tingkat yang rendah, sehingga banyak tempat pariwisata dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat, selain dapat memutar roda perekonomian, pengelolaan wisata alam juga untuk upaya melestarikan ekosistem makhluk hidup. Keikutsertaan pemerintah dalam perencanaan dan pengelolaan  pariwisata di Banten  sangat dibutuhkan, khusunya, kesan yang melekat pada wajah pariwisata Banten saat ini adalah maraknya aksi pungutan liar atau pembayaran yang kurang jelas tujuannya, sehingga mengecewakan setiap pengunjungnya. Sebagai contoh potensi wisata, di kabupaten Tangerang, terdapat daerah yang relatif hijau dan merupakan ekosistem bagi monyet di daerah Solear, tidak jauh dari situ, terdapat bendungan kecil peninggalan Belanda yang cukup eksotis, sepanjang jalan menuju Solear dari arah Bojong Loa terhampar sawah hijau, namun kembali, sebagian sawah mulai dialih fungsikan menjadi kompleks perumahan, apabila pemerintah ikut serta membangun fasilitas pariwisata, lokasi tersebut sangat potensial dijadikan wisata agraria dan kehutanan seperti taman hutan kota yang sudah berdiri di Tangerang Selatan. Berpindah ke banten selatan, sebuah daerah yang cukup terpencil dari keramaian kota bernamakan Lebak, menyimpan seribu potensi wisata alam, dengan alam yang masih alami dan indah, sangat miris jika nantinya daerah ini ikut terseret arus modrenisasi,  apresiasi yang besar diberikan pada pemerintahan Lebak yang telah merevitalisasi jalan Cipanas-Citorek sehingga akses ke destinasi-destinasi wisata di daerah Lebak dapat dilalui dengan mudah. Dan agar terus memperhatikan dan ikut serta mengelola pariwisata daerah agar dapat mengejar ketertinggalan dari Jawa Barat. Jika di Jawa Barat ada Geopark Ciletuh Banten pun bisa membangun Geopark Lebak.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan pembangunan Provinsi Banten cukup pesat, namun, pemerintah harus memiliki visi pembangunan yang jelas, diimbangi dengan pertimbangan aspek pangan dan kesehatan lingkungan, “akan menjadi seperti apa wajah tanah jawara pada akhirnya?”, adalah sebuah pertanyaan sederhana namun masih sulit dijawab. Akankah masa depan tata ruang kota yang ada di provinsi banten sejelas Meikarta? Akankah seindah Tokyo atau Amsterdam?  Dan dapatkah potensi alam di Provinsi ini dikelola optimal seperti Jawa Barat? generasi kemerdekaan yang kedua dan seterusnya harus dapat merasakan ruh semangat pejuang terdahulu, dengan semangat tersebut di masa mendatang para pemegang tongkat estafet pemerintahan menjadi bagian jawaban tersebut, menjadikan Provinsi Banten indah dan lestari alamnya, sejahtera warganya, makmur Provinsinya.



    


Tidak ada komentar:

Flag Counter

Posting Komentar